Notification

×

Iklan

=

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PCNU Miskin Perlu Duit dan Mata Duitan

Monday, August 24, 2026 | August 24, 2026 WIB Last Updated 2026-08-24T12:20:55Z

 

Gambar tangjapan layar dari akun tok tok Nahdiyin Bersatu


SURABAYA – Pernyataan Kiai Kampung HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur kembali menjadi perbincangan di media sosial. Kali ini, potongan video yang diunggah akun TikTok Nahdiyin Bersatu viral karena memuat kritik tajam Gus Lilur mengenai kondisi finansial Nahdlatul Ulama (NU).

Dalam video berdurasi sekitar 1 menit 49 detik yang disebut berasal dari kanal YouTube LP3ES, Gus Lilur membandingkan kemandirian finansial NU dengan Muhammadiyah.

Menurut dia, secara finansial NU masih tertinggal jauh dibandingkan Muhammadiyah. Kondisi tersebut, kata Gus Lilur, membuat sebagian struktur dan kader NU rentan terhadap godaan uang.

"Secara finansial, NU kalah jauh sama Muhammadiyah. Kalau kita bicara cash, Muhammadiyah punya triliunan. Dan kader-kadernya memasukkan konsep organisasi yang mandiri di hatinya," ujar Gus Lilur dalam potongan video tersebut.

Gus Lilur kemudian menyebut persoalan ekonomi menjadi tantangan serius bagi organisasi sebesar NU. Ia mengaku prihatin karena kemiskinan di lingkungan organisasi dapat membuka celah bagi kepentingan politik.

"Sementara kader NU, melihat uang Rp 50 juta saja itu niat sudah bisa berubah. Nah, kami yang miskin ini merasa sedih. NU hari ini miskin," katanya.

Soroti Dugaan Pemanfaatan Kemiskinan untuk Kepentingan Politik
Dalam pernyataannya, Gus Lilur juga menyinggung adanya pihak-pihak yang disebut memanfaatkan kondisi finansial NU untuk kepentingan kekuasaan dan suksesi kepemimpinan organisasi.

Ia menilai, iming-iming bantuan atau uang berpotensi digunakan untuk memengaruhi suara di tingkat struktur organisasi.

Gus Lilur bahkan mengkhawatirkan kondisi tersebut dapat mengancam independensi NU jika organisasi terlalu bergantung pada kepentingan politik dan kekuasaan.

Menurut Gus Lilur, PCNU dan PWNU yang memiliki keterbatasan finansial menjadi kelompok yang rentan menerima berbagai tawaran bantuan.

"Lantas PCNU-PCNU yang miskin dan perlu duit dan mata duitan itu mereka tawari iming-iming uang," ujarnya.

Ia kemudian membandingkan sikap tersebut dengan kultur kemandirian yang menurutnya lebih kuat di lingkungan Muhammadiyah.

"Sayangnya PCNU kami bukan PC Muhammadiyah. Sayangnya PWNU kami bukan PW Muhammadiyah. Muhammadiyah ditawari uang mereka pasti marah. Kalau kita ditawari uang, kita berlomba datang mengambil uang," kata Gus Lilur.

Pernyataan Gus Lilur itu pun kembali memantik perdebatan di kalangan warga Nahdliyin di media sosial. Sebagian menilai kritik tersebut sebagai refleksi keras mengenai pentingnya kemandirian ekonomi organisasi, sementara lainnya mempertanyakan generalisasi terhadap struktur dan kader NU.

Di tengah dinamika politik dan suksesi kepemimpinan yang berkembang, pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menempatkan persoalan kemandirian ekonomi sebagai salah satu isu penting dalam menjaga marwah dan independensi organisasi.

×
Berita Terbaru Update