Notification

×

Iklan

=

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Muktamar NU Disorot, Gus Lilur Seruan Jaga Independensi dari Tarik Ulur Politik Menguat

Wednesday, April 15, 2026 | April 15, 2026 WIB Last Updated 2026-04-15T05:21:37Z

 

Tokoh NU asal Jatim Gus Lilur bersama menteri Agama RI

JAKARTA – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah suara kritis dari kalangan nahdliyin mulai mengemuka. Salah satunya datang dari HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur yang menilai forum tertinggi organisasi tersebut harus menjadi momentum menjaga kemurnian arah NU dari kepentingan politik praktis.


Gus Lilur menyebut muktamar kali ini bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan titik penting yang akan menentukan arah masa depan organisasi. Ia menekankan pentingnya menjaga NU tetap berada pada jalur keulamaan yang berlandaskan ilmu dan akhlak.

“NU didirikan oleh para ulama besar, bukan untuk menjadi alat kepentingan kekuasaan,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

Menurut dia, belakangan muncul kecenderungan kaburnya batas antara peran keagamaan dan aktivitas politik di tubuh NU. Hal ini, kata dia, berpotensi memengaruhi independensi organisasi sekaligus menurunkan kepercayaan publik.

Ia juga menilai dinamika kepemimpinan dan munculnya sejumlah figur yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan perlu menjadi bahan evaluasi terbuka dalam muktamar.

“Ini bukan soal individu, tapi soal menjaga marwah organisasi. NU tidak boleh menjadi panggung bagi kepentingan politik praktis,” katanya.

Lebih lanjut, Gus Lilur menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai melemahnya basis keilmuan di tengah sebagian pengurus. Ia mengingatkan bahwa kekuatan utama NU selama ini terletak pada tradisi intelektual seperti pesantren dan forum bahtsul masail.

“Kalau NU kuat di ilmu, otomatis akan dihormati. Tapi kalau terlalu sibuk di politik, berisiko kehilangan arah,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai NU memiliki banyak tokoh dengan kapasitas keulamaan dan intelektualitas yang mumpuni untuk memimpin organisasi ke depan. Karena itu, ia berharap proses muktamar dapat berjalan secara jujur, bersih, dan mengedepankan kualitas.

Gus Lilur juga mengajak para peserta muktamar untuk memiliki keberanian moral dalam menentukan pilihan kepemimpinan, tanpa intervensi kepentingan jangka pendek.

“NU harus berdiri di atas semua golongan. Independensi adalah kunci agar organisasi tetap menjadi penyejuk dan penuntun umat,” ucapnya.

Ia menambahkan, muktamar mendatang diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat kembali fokus NU pada pengembangan keilmuan, kaderisasi ulama, serta kontribusi pemikiran Islam yang relevan dengan tantangan zaman.

“Muktamar ini adalah ujian sejarah. Keputusan yang diambil akan menentukan arah NU ke depan,” kata dia.

×
Berita Terbaru Update