SITUBONDO – Upaya mendorong kemandirian ekonomi warga terus dilakukan berbagai pihak. Di Situbondo, Jawa Timur, Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HISPI) cabang setempat bersama NU-Care Lazisnu memberikan bantuan permodalan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya pembudidaya kepiting soka.
Bantuan tersebut diberikan kepada Jaka Apriyantoro, seorang pemuda yang mengembangkan budidaya kepiting soka jenis bakau di lokasi yang tidak biasa, yakni di tengah kota.
Ketua HISPI Kabupaten Situbondo, KH Hamim Hamimullah, didampingi perwakilan Lazisnu Situbondo, H. Birrul Alim, mengatakan pihaknya ingin mendorong potensi usaha yang dinilai prospektif sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Banyak kolam yang kosong, kemudian kita coba manfaatkan. Sambil belajar budidaya kepiting soka yang ternyata bisa dilakukan tidak harus di pesisir, tetapi juga di tengah kota,” ujar Hamim saat menyerahkan bantuan, Rabu (5/8/2026).
Menurut dia, budidaya kepiting soka memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya proses pemeliharaan yang relatif mudah serta biaya pakan yang lebih terjangkau. Pakan kepiting bahkan bisa diperoleh dari keong sawah yang selama ini menjadi hama bagi petani.
“Selain lebih murah, ini juga membantu petani karena keong yang biasanya merusak tanaman bisa dimanfaatkan sebagai pakan,” katanya.
Hamim menambahkan, kunjungannya ke lokasi budidaya tidak hanya untuk menyerahkan bantuan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan moral agar generasi muda lebih berani terjun ke dunia usaha.
“Kami ingin memompa semangat anak muda agar bersama-sama mengembangkan budidaya kepiting soka ini. Ke depan, HISPI dan Lazisnu akan mencoba menghimpun para pemuda untuk mengembangkan usaha ini secara kolektif,” ujarnya.
Ia menilai, peluang pasar kepiting soka masih sangat terbuka luas, terutama untuk wilayah Jawa Timur hingga Bali. Hal ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha baru untuk berkembang.
Sementara itu, Jaka Apriyantoro mengaku saat ini usahanya masih terbatas karena kendala modal. Ia memanfaatkan kolam bekas lele milik rekannya untuk menjalankan budidaya tersebut.
“Sekarang masih sekitar 260 ekor yang saya kembangkan. Karena keterbatasan modal, saya masih menumpang di kolam teman,” ujarnya.
Meski demikian, Jaka optimistis usaha budidaya kepiting soka memiliki prospek cerah. Tingginya permintaan pasar membuat dirinya membuka peluang kerja sama bagi masyarakat, khususnya anak muda yang ingin terjun di bidang tersebut.
“Permintaan kepiting soka di Jawa Timur dan Bali cukup tinggi. Saya mengajak teman-teman atau masyarakat yang berminat untuk bergabung sebagai mitra,” katanya.
Inovasi budidaya kepiting soka di tengah keterbatasan lahan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memanfaatkan peluang usaha secara kreatif dan berkelanjutan.
“Banyak kolam yang kosong, kemudian kita coba manfaatkan. Sambil belajar budidaya kepiting soka yang ternyata bisa dilakukan tidak harus di pesisir, tetapi juga di tengah kota,” ujar Hamim saat menyerahkan bantuan, Rabu (5/8/2026).
Menurut dia, budidaya kepiting soka memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya proses pemeliharaan yang relatif mudah serta biaya pakan yang lebih terjangkau. Pakan kepiting bahkan bisa diperoleh dari keong sawah yang selama ini menjadi hama bagi petani.
“Selain lebih murah, ini juga membantu petani karena keong yang biasanya merusak tanaman bisa dimanfaatkan sebagai pakan,” katanya.
Hamim menambahkan, kunjungannya ke lokasi budidaya tidak hanya untuk menyerahkan bantuan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan moral agar generasi muda lebih berani terjun ke dunia usaha.
“Kami ingin memompa semangat anak muda agar bersama-sama mengembangkan budidaya kepiting soka ini. Ke depan, HISPI dan Lazisnu akan mencoba menghimpun para pemuda untuk mengembangkan usaha ini secara kolektif,” ujarnya.
Ia menilai, peluang pasar kepiting soka masih sangat terbuka luas, terutama untuk wilayah Jawa Timur hingga Bali. Hal ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha baru untuk berkembang.
Sementara itu, Jaka Apriyantoro mengaku saat ini usahanya masih terbatas karena kendala modal. Ia memanfaatkan kolam bekas lele milik rekannya untuk menjalankan budidaya tersebut.
“Sekarang masih sekitar 260 ekor yang saya kembangkan. Karena keterbatasan modal, saya masih menumpang di kolam teman,” ujarnya.
Meski demikian, Jaka optimistis usaha budidaya kepiting soka memiliki prospek cerah. Tingginya permintaan pasar membuat dirinya membuka peluang kerja sama bagi masyarakat, khususnya anak muda yang ingin terjun di bidang tersebut.
“Permintaan kepiting soka di Jawa Timur dan Bali cukup tinggi. Saya mengajak teman-teman atau masyarakat yang berminat untuk bergabung sebagai mitra,” katanya.
Inovasi budidaya kepiting soka di tengah keterbatasan lahan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk memanfaatkan peluang usaha secara kreatif dan berkelanjutan.

