JAKARTA - Gelombang sambutan terhadap Presiden Joko Widodo dalam safari politiknya terus menjadi sorotan. Setelah kunjungan ke Lampung disambut meriah, antusiasme publik di Nusa Tenggara Timur justru melampaui ekspektasi lebih besar, lebih emosional, dan terasa lebih heroik.
Fenomena ini seolah luput dari banyak pengamat. Baik mereka yang kritis, yang skeptis, hingga pengamat yang benar-benar objektif, sebagian besar tidak sepenuhnya membaca arah gerak politik Jokowi. Di balik kunjungan-kunjungan tersebut, tampak ada strategi yang tidak biasa: pendekatan berbasis jaringan adat, kesultanan, dan kerajaan Nusantara.
Selama masa kepemimpinannya, Jokowi dikenal konsisten merawat hubungan dengan para pemangku adat. Salah satu simbol paling kuat adalah tradisi penggunaan pakaian adat dalam peringatan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus. Bagi masyarakat daerah, momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan atas identitas, kehormatan, dan kebanggaan budaya mereka.
Langkah-langkah ini bukan tanpa jejak. Pada 2018, misalnya, Presiden pernah mengundang puluhan raja, sultan, dan tokoh adat ke Istana Bogor. Saat itu, banyak yang melihatnya sebagai seremoni biasa. Namun kini, rangkaian peristiwa tersebut mulai terlihat sebagai bagian dari strategi jangka panjang yang lebih besar.
Jika pola ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan muncul narasi besar tentang “kebangkitan Nusantara”—sebuah gagasan yang mengikat identitas, sejarah, dan kekuatan kultural menjadi satu kesatuan politik. Bahkan, penggunaan nama “Nusantara” untuk ibu kota negara seakan memperkuat arah simbolik tersebut.
Di sisi lain, dinamika politik tetap berjalan dengan berbagai kritik, sindiran, dan perdebatan. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, Jokowi tampak melangkah dengan pendekatan yang berbeda: membangun koneksi emosional berbasis identitas dan kebudayaan.
Apakah ini strategi yang sepenuhnya disadari sejak awal, atau berkembang seiring perjalanan waktu, masih menjadi ruang tafsir. Namun satu hal yang sulit dipungkiri, langkah-langkah tersebut menunjukkan pola yang rapi, terukur, dan tidak mudah terbaca.
Di panggung politik yang penuh kejutan, Jokowi tampak memainkan peran layaknya seorang pecatur—tenang, sabar, dan beberapa langkah di depan.
