Notification

×

Iklan

=

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ramalan Cak Nun Tahun 2012 Terbukti, Iran Diserang AS, Saudi Bela Israel, Indonesia Bela Siapa ?

Sunday, March 1, 2026 | March 01, 2026 WIB Last Updated 2026-03-01T04:20:09Z

 

Budayawan Emha Ainun Nadjib. foto: istimewa

SURABAYA – Di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada Juni 2025, publik Indonesia justru dibuat terhenyak oleh kemunculan kembali video lawas budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun. Minggu (1/3/2026).

Video yang disebut berasal dari pengajian tahun 2012 itu kembali beredar luas di media sosial beredar luas belakangan ini. Potongan rekaman tersebut diunggah ulang oleh akun X @6undul0h pada 2024 hingga akhir - akhir ini banyak yang mebagikan di media sosial, dalam waktu singkat cuplikan video itu memicu ribuan komentar serta diskusi panjang di ruang digital.

Dalam tayangan tersebut, Cak Nun memaparkan analisis geopolitik yang kala itu terdengar spekulatif. Namun, bagi sebagian warganet, apa yang disampaikannya kini terasa seperti potongan naskah yang menemukan momentumnya.

Dalam ceramahnya, Cak Nun menekankan bahwa konflik Timur Tengah bukan semata perang fisik. Ia menyebut adanya dimensi propaganda, psikologis, hingga spiritual yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan besar.

“Jadi tingkat provokasinya dari adu domba fisik sampai psikologi dan batin. Dan ini serius,” ujar Cak Nun dalam rekaman tersebut.

Ia lalu menyampaikan prediksi yang kini kembali diperbincangkan: suatu saat Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika Serikat, dan Arab Saudi disebutnya akan berada di posisi membela Israel.

Pernyataan itu, terutama soal posisi Arab Saudi, menjadi bagian yang paling banyak disorot. Pada 2012, gagasan bahwa negara dengan pengaruh besar di dunia Islam Sunni itu akan berdiri di barisan yang sama dengan Israel dalam konflik melawan Iran—yang identik dengan kekuatan Syiah—dianggap banyak pihak sebagai hal yang nyaris mustahil.

Namun dalam satu dekade terakhir, dinamika geopolitik kawasan memang mengalami pergeseran signifikan, termasuk menguatnya kerja sama strategis antara sejumlah negara Arab dan Israel dalam isu keamanan regional.

Cak Nun tak berhenti pada peta global. Ia menarik benang analisisnya ke dalam negeri dengan melontarkan pertanyaan retoris yang kini terasa semakin relevan.
“Pertanyaannya untuk Indonesia, Indonesia bela mana? Bela Iran atau bela Israel?” ucapnya dalam video tersebut.

Ia kemudian menjawab sendiri, dengan nada reflektif sekaligus kritis terhadap karakter sosial-politik bangsa.
“Kita pasti keras kepala sendiri. Separuh bela Iran, separuh bela Israel, atau nggak bela siapa-siapa, karena nggak ngerti,” katanya.

Potongan kalimat ini menjadi bagian yang paling sering dikutip ulang oleh warganet. Seiring berita serangan Israel terhadap Iran mendominasi lini masa, ruang digital Indonesia memang dipenuhi perdebatan sengit.

Sebagian menyuarakan solidaritas terhadap Iran dengan narasi anti-imperialisme dan perlawanan terhadap dominasi Barat. Sebagian lain menunjukkan simpati kepada Israel dengan berbagai argumentasi geopolitik dan keamanan. Tak sedikit pula yang memilih bersikap netral atau mengaku bingung di tengah arus informasi dan disinformasi yang deras.

Bagi pendukungnya, apa yang disampaikan Cak Nun dianggap sebagai “ramalan” yang terbukti. Namun sejumlah pengamat menilai, pernyataan tersebut lebih tepat dipahami sebagai pembacaan tajam atas tren geopolitik yang sudah mulai tampak sejak awal 2010-an.

Terlepas dari perdebatan itu, satu hal yang tak terbantahkan adalah relevansi pesan tersebut dengan kondisi saat ini: konflik global tak pernah benar-benar jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di era media sosial yang serba cepat dan terbuka.

Video lama itu kini bukan sekadar arsip ceramah. Ia menjelma cermin memantulkan bagaimana bangsa ini merespons konflik global: emosional, terbelah, sekaligus mencari pegangan di tengah pusaran isu internasional yang kompleks.


×
Berita Terbaru Update