Penulis : HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
JAKARTA – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tahun 2026 bukan sekadar forum lima tahunan untuk memilih pemimpin. Ia adalah ruang penentu arah—sebuah titik krusial yang akan membentuk wajah NU ke depan: tetap sebagai kekuatan moral umat, atau perlahan terseret dalam pusaran kepentingan. Senin (6/4/2026).
Momentum ini tidak datang setiap saat. Ia adalah jeda sekaligus ujian. Ujian tentang kesetiaan NU terhadap nilai-nilai yang melahirkannya, di tengah derasnya tarik-menarik kekuasaan yang kini kian nyata.
Di tengah dinamika itu, ada satu hal yang semestinya ditegaskan sejak awal, tanpa ruang tawar: politik uang adalah haram. NU tidak boleh dibangun di atas praktik yang bertentangan dengan nilai dasar agama.
Penegasan ini bukan sekadar pengulangan norma. Ini adalah fondasi. Sebab dari sinilah integritas seluruh proses Muktamar akan diukur—apakah menjadi ajang pemilihan yang bermartabat, atau justru berubah menjadi arena transaksi.
Karena itu, komitmen harus dimulai dari hal paling mendasar: seluruh peserta Muktamar tidak boleh terlibat dalam politik uang. Tidak menerima, tidak menegosiasikan, dan tidak menjadi bagian dari distribusinya. Apalagi jika sumber dana berasal dari praktik korupsi.
Jika itu terjadi, persoalannya tidak lagi sekadar etik. Ia berpotensi menjalar ke ranah hukum. NU bisa terseret dalam jejaring korupsi, bahkan berisiko masuk dalam pusaran tindak pidana pencucian uang. Ini bukan spekulasi, melainkan konsekuensi nyata dari relasi antara uang, kekuasaan, dan hukum.
Menerima politik uang berarti menjual suara—dan sekaligus menggadaikan masa depan organisasi.
Kesadaran ini seharusnya mendorong langkah lebih tegas: pembersihan internal. NU tidak bisa lagi menutup mata terhadap berbagai isu yang mencoreng citranya, termasuk yang beririsan dengan tata kelola kekuasaan dan dugaan praktik koruptif.
Dalam organisasi berbasis moral, persepsi publik adalah segalanya. Ketika kepercayaan mulai terkikis, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi, tetapi legitimasi.
Maka Muktamar harus menjadi momentum pemulihan. Bukan sekadar klarifikasi, melainkan keberanian mengambil tindakan. Integritas tidak cukup dikampanyekan—ia harus ditegakkan.
Langkah konkret itu jelas: menyingkirkan siapa pun dalam struktur organisasi yang terindikasi terlibat dalam praktik korupsi.
Di sisi lain, tantangan yang tak kalah serius adalah kecenderungan menjadikan NU sebagai kendaraan politik. Hari ini, NU bukan hanya didekati tetapi diperebutkan. Banyak aktor politik melihatnya sebagai basis legitimasi dan mobilisasi.
Mereka masuk, membangun jaringan, lalu perlahan mengarahkan organisasi sesuai kepentingan.
Di titik ini, NU harus menjaga jarak. Bukan anti-politik, tetapi menjaga independensi. Sebab ketika NU kehilangan kemandiriannya, ia tidak lagi menjadi penjaga moral bangsa melainkan sekadar bagian dari konfigurasi kekuasaan.
Pada akhirnya, semua bermuara pada satu pertanyaan mendasar: siapa yang layak memimpin NU?
Jawabannya seharusnya kembali pada akar: ulama. Bukan sekadar figur dengan akses politik, tetapi mereka yang memiliki kedalaman ilmu, kejernihan pandangan, dan keteguhan moral.
NU lahir dari rahim ulama. Dan hanya dengan kembali pada otoritas keilmuan dan integritas moral itulah NU bisa menjaga jati dirinya.
Ketika logika politik menggantikan peran ulama, yang hilang bukan hanya arah—tetapi juga ruh organisasi.
Konferensi Besar yang akan digelar April 2026 semestinya menjadi pintu masuk menuju pembenahan itu. Sebuah langkah awal untuk menunjukkan bahwa NU masih memiliki kesadaran untuk merawat dirinya, membersihkan dirinya, dan menata kembali arah perjalanannya.
Bahwa NU tetap ingin berdiri sebagai pilar bangsa—bukan penumpang kekuasaan, melainkan penopang bagi negara yang bersih dan berintegritas.
Pada akhirnya, Muktamar ini bukan soal siapa yang menang.
Tetapi nilai apa yang dimenangkan.
Jika nilai yang menang, NU akan tetap tegak sebagai kekuatan moral.
Namun jika kepentingan yang menang, yang tersisa hanyalah organisasi besar tanpa arah.
Karena itu, sikapnya harus jelas:
menolak yang haram, dan menjadikannya fondasi masa depan.
